Desa Candimulya Alokasikan DD Untuk Pembangunan Infrastruktur

FORUM JURNALIS MADIUN, DOLOPO - Agar mobilitas warga lancar sehingga bisa mendongkrak perekonomian lokal, Desa Candimulya, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun menggunakan Dana Desa (DD) untuk pembangunan infrastruktur jalan yang sudah rusak.....

BUMDes Desa Tambakmas Berdayakan Masyarakat Melalui Unit Usaha Cor Beton

FORUM JURNALIS MADIUN, KEBONSARI - Desa Tambakmas, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun merupakan desa yang menonjol dibidang pertanian dan holtikultura.......

Desa Mejayan Pembangunan Untuk Kesejahteraan Warga

FORUM JURNALIS MADIUN, MEJAYAN - Sebagai jantung Ibu Kota Kabupaten Madiun, desa Mejayan, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun dalam melaksanakan pembangunan desa .....

BUDIDAYA BIBIT IKAN GURAMI DI DESA SIDOREJO KECAMATAN KEBONSARI KABUPATEN MADIUN

FORUM JURNALIS MADIUN, KEBONSARI - Ikan Gurami merupakan ikan asli Indonesia dan berasal dari perairan daerah Jawa Barat. Ikan ini merupakan salah satu komuditi perikanan air tawar yang cukup tinggi .....

PETANI CENGKEH DI DESA TILENG BUTUH CAMPUR TANGAN PEMKAB MADIUN

FORUM JURNALIS MADIUN, DAGANGAN - Tanaman cengkeh merupakan tanaman asli Indonesia, tanaman ini tumbuh subur di daerah pegunungan dan dataran rendah yang banyak curah hujannya .....

Tuesday, 26 July 2016

Geliat Industri Tradisional Tempe Di Desa Plumpungrejo

WONOASRI - Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan yang menggunakan beberapa jenis kapang seperti kapang roti. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai “ Ragi Tempe “. Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa komplek menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B, dan zat besi, berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotic untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif.

Contoh “ Home Industry “ yang ada di Desa Plumpungrejo Kecamatan Wonoasri Kabupaten Madiun tersebut memproduksi tempe dan dimiliki oleh pengusaha yang bernama Ibu Supraptiningsih. Usaha yang dijalaninya turun temurun dari nenek moyang mereka menarik perhatian kami untuk menggali informasi dari pengusaha tersebut Supraptiningsih memilih usaha tempe ini karena berkat ketrampilannya dalam membuat tempe. Beliau diajarkan oleh ayah dan ibunya.

Bahan-bahan dibutuhkan untuk membuat tempe pada usaha yang dijalankan oleh pengusaha tersebut tidak terlalu banyak, seperti kacang kedelai, air dan ragi. Sementara alat-alat yang dibutuhkan cukup banyak yaitu kayu bakar, drum minyak untuk tempat merebus, daun pisang, ada juga kajang kerey untuk tempat tempe saat didiamkan, alat penyaring, alat penggiling dan tong plastic yang berukuran besar untuk mewadahi kacang kedelai. Bagi termasuk bahan-bahan yang diperlukan dan sangat penting sekali karena berguna untuk mengembangkan jamur. Sedangkan cara pembuatan tempe sangat sederhana tetapi membutuhkan waktu cukup panjang yaitu sekitar 3 hari. Waktu proses ini berlangsung dari sebelum sampai sesudah menjadi tempe yang siap untuk dipasarkan. Proses pembuatan tempe diawali dengan merebus kacang kedelai kurang lebih selama 2 jam setelah itu direndam selama 12 jam pada malam hari. Esok harinya kacang kedelai tersebut digiling lalu dicuci sampai bersih, kemudian diberi ragi, ditiriskan dan dilanjutkan dengan dibuat atau dicetak menjadi tempe. Setelah itu didiamkan selama 2 hari 2 malam dan keesokan paginya siap dijual.

Cara penjualan pengusaha tempe ini tergantung dari ukurannya. Misalnya tempe yang berukuran 3x5 cm seharga Rp.500,- dalam sehari kacang kedelai yang dibutuhkan usaha beliau yaitu 5 kg. untuk pembuatan tempe dan modal yang dikeluarkan dalam sehari membutuhkan uang sebesar Rp. 100.000,- untuk membeli bahan-bahan seperti kacang kedelai, ragi, dan daun pisang sedangkan keuntungan yang di dapat berkisar 50-100 ribu rupiah tergantung dari sepi dan tidaknya pemasaran.

Ibu pengusaha tempe ini memasarkan hasil produksinya kepasar tradisional yang ada didesa tersebut, diwarung-warung, serta dirumahnya sendiri.

Kepala Desa Plumpungrejo Kecamatan Wonoasri Kabupaten Madiun Bapak Agus Sriyono saat dikonfirmasi mengatakan “ Karena modal kecil dan pemasaran tempe juga sulit maka pengusaha-pengusaha tempe tradisional disini hanya bisa bertahan dilingkungannya sendiri makanya saya minta peran serta dinas terkait agar bisa membantu pengusaha-pengusaha tempe tersebut agar bisa berkembang keluar desa kami dan usaha turun-temurun dari nenek moyang tidak akan musnah”. Pungkasnya (*) 

Sumber Berita : Koran Metro Jatim

Tuesday, 5 July 2016

Air Terjun Suksukan, Pesona Keindahan Alam Desa Tileng

DAGANGAN : Banyak yang belum tahu kalau di Desa Tileng, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun terdapat destinasi wisata lokal alami yaitu air terjun Suksukan. Air terjun dengan 2 tingkat yang total setinggi 30 meter ini yang berada diwilayah Dusun Gajahan, RT 7 RW 3, Desa Tileng ini sudah lama ditemukan, namun belum tergarap secara maksimal.
Dengan didampingi Kepala Desa Tileng dan beberapa perangkat, Wartawan SKN Investigasi New berkesempatan menjelajah dan menyusuri aliran sungai hingga sampai di titik terendah air terjun Suksukan tersebut.
Menurut Miratnu, Kepala Desa Tileng, air terjun Suksukan ini memang sudah lama ditemukan, namun belum diangkat karena lokasi air terjun tersebut jarang dilewati penduduk. “Kita usahakan agar akses jalan menuju air terjun ini dibangun dan ditata sehingga bisa menarik minat wisatawan,” ungkap Miratnu.
Sepanjang langkah menyusuri aliran sungai yang berair jernih dan bebatuan ini, mata Wartawan Investigasi dimanjakan hijaunya dedaunan dan gemerecik air sehingga membuat perasaan menjadi tentram serta lupa akan kepenatan rutinitas sehari-hari.
Diterangkan, air terjun Suksukan ini tercipta dari pertemuan dua aliran sungai yaitu aliran sungai Bata Putih yang berasal dari sumber mata air Desa Tileng dengan aliran sungai Jeram yang berasal dari Desa Ngebel (Ponorogo). “Pertemuan 2 aliran sungai besar ini bertemu dalam satu titik (tempuran) di air terjun Suksukan,” kata Miratnu sembari membersihkan kayu yang berada dibawah air terjun.
Pesona wisata inilah yang nantinya akan ditawarkan Pemerintah Desa Tileng agar masyarakat luas tahu bahwa di Desa Tileng mempunyai destinasi wisata alami yang bisa dijadikan referensi untuk wisata keluarga.
Selanjutnya Miratnu menjelaskan, Desa Tileng terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Krajan, Pokolimo dan Gondoroso yang rata-rata penduduknya menanam cengkih dan durian. Namun, kebiasaan penduduk setempat apabila panen mereka menjual sendiri-sendiri ataupun ada yang diambil pengepul dengan harga yang relatif murah. “Apabila nantinya akses ke air terjun Suksukan ini sudah dibuka, maka disekitar lokasi air terjun apabila panen durian akan kita tawarkan kepengunjung yang datang,” ujarnya.
Dibalik keindahan dan keasrian air terjun Suksukan ini terdapat legenda yang merupakan bentuk kearifan lokal desa setempat. Diceritakan secara turun temurun bahwa secara ghaib daerah air terjun Suksukan tersebut akan dijadikan telaga, namun sebelum telaga terbentuk, tiba-tiba terdengan suara lesung ditabuh oleh Mbok Rondo Dayakan (Segulung) sehingga pembuatan telaga dalam satu malam batal.
Yang pasti, keindahan air terjun Suksukan dipastikan bisa menambah referensi wisata yang ada di wilayah Kabupaten Madiun. “Silahkan datang dan buktikan keindahan air terjun Suksukan,” pungkas Miratnu. (*)
Sumber Berita : InvestigasiNews Madiun

Monday, 4 July 2016

SKPD Berhak Tolak Wartawan Abal Abal Yang Datang Hanya Minta Minta Uang

Madiun Kota : Bagai jamur dimusim penghujan, itulah ungkapan yang tepat melihat fenomena kemunculan oknum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Wartawan abal-abal yang sering bergentayangan masuk ke Satker dilingkup Pemerintah Kota Madiun dan Kabupaten Madiun.

Kemunculan oknum yang mengaku LSM dan Wartawan Tanpa Surat Kabar ini tentu saja meresahkan instansi terkait. "Iya mas, mereka biasa datang secara rombongan 2 sampai 4 orang untuk meminta uang bensin," ungkap salah satu Staff di SKPD Pemerintah Kota Madiun.
Menyikapi hal ini, Sarjono, Ketua Forum Jurnalis Madiun (FJM) meminta SKPD dilingkup Pemerintah Kota maupun Kabupaten untuk selalu waspada dan tidak asal percaya jika ada oknum yang mengaku Wartawan maupun LSM.
"Dimohon kepada Kepala Dinas maupun pejabat di institusi pemerintahan agar waspada dan tidak mudah percaya saat didatangi orang yang mengaku sebagai Wartawan yang ujung-ujngnya hanya minta duit atau THR menjelang lebaran," ungkap Sarjono pada SKN Investigasi, Senin (27/6/16).
Sarjono menegaskan, apabila oknum yang mengaku Wartawan maupun LSM tersebut tetap memaksa, maka pejabat yang bersangkutan bisa menolak dengan tegas. "Tolak saja apabila kedatangannya tidak ada kaitan dengan tugas-tugas kejurnalistikan," tegasnya.
Lebih jauh Sarjono melanjutkan, Wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Madiun merasa risih dan prihatin dengan kemunculan oknum-oknum tersebut karena apabila ada liputan diwilayah Kota dan Kabupaten mereka tidak pernah muncul namun menjelang hari raya Idul Fitri malah keluar seperti jamur dimusim penghujan. "Terus terang kita merasa risih dan prihatin dengan munculnya Wartawan abal-abal, apalagi keberadaannya tidak pernah dikenal oleh komunitas Wartawan yang bertugas di wilayah Madiun," pungkas Sarjono.
Hal senada juga disampaikan oleh Agung Marsudi, Sekretaris FJM. Pergerakan oknum Wartawan yang tidak jelas bentuk medianya ini sudah sangat meresahkan. Agung menuturkan disalah satu SKPD di Kabupaten Madiun  beberapa hari yang lalu sampai kewalahan melayani kedatangan Wartawan yang datang secara rombongan.
“Kemarin sewaktu saya di salah satu SKPD, Saya melihat dibuku tamu ada delapan nama yang antri bertemu dengan Kepala Dinas, disitu hanya disebutkan Pers Madiun, tidak jelas medianya apa,” ungkap Agung Marsudi.
Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan di Dinas terkait karena mereka rata-rata tidak kenal dengan oknum Wartawan tersebut. “Saran saya, bila tidak jelas medianya apa tolak saja, karena ini bisa merusak citra Wartawan yang benar-benar melakukan liputan di wilayah Kota dan Kabupaten Madiun,” tegasnya. (*)

Ket. Foto : Ketua Forum Jurnalis Madiun (FJM), Sardjono
Sumber Berita : InvestigasiNews Madiun

Kripik Tempe Produk Unggulan Desa Bongsopotro

SARADAN -  Pemerintah Kabupaten Madiun telah menggali potensi desa – desa sekabupaten Madiun, baik mengenai potensi produk unggulan, pariwisata juga potensi desa. Dalam menggali potensi desa ini di topang lewat dana ADD/DD, agar desa tersebut bisa lebih baik maju dan sejahtera masyarakatnya.
Dengan adanya program menggali potensi desa dari pemerintah Kabupaten Madiun, desa Bongsopotro Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun berjuang dan berusaha untuk mewujudkannya. Terbukti warga masyarakat desa Bongsopotro ini telah banyak yang membuat macam – macam usaha home, industri, salah satunya produksi kripik tempe ini.
Produk kripik tempe milik Dwi Suwarno yang beralamat di Dusun 2 (dua) RT 08/ RW 02 Desa Bongsopotro Kecamatan Saradan, Kabupaten madiun ini telah berjalan 5 tahun lebih, hasil produksinya juga sudah terkenal di lingkungan dan sekitar desanya. Dalam pemasarannya kripik tempe Dwi Suwarno ini tidaklah sulit, karna rasanya yang enak, gurih dn renyah, jadi banyak pembeli yang berdatangan ketempatnya bahkan ada yang pesan buat acara hajatan atau buat dijual lagi dan buat kebutuhan sehari – hari, tenaga yang dibutuhkannya Cuma 3 – 5 orang saja, penghasilan bersih rata – rata perbulan sekitar 3 – 5 juta. Hasil produksi perhari 8 – 10 lonjor tempe, kurang lebih mulai jual 250.000 – 300.000 yang sudah jadi kripik tempe siap santap
Letak geografis desa Bongsopotro adalah batas sebelah timur : desa sidorejo, batas sebelah barat : desa sukorejo, batas sebelah utara : desa sumbersari, batas sebelah selatan : desa sukorejo, dan dusun Kaligunting, desa Bongsoputro dibagi atas 4 dusun, luas wilayah Bongsoputro 228.867 Ha, jumlah penduduknya : 2531 jiwa, terdiri dari laki – laki : 1247 jiwa, dan perempuan 1284 jiwa
Jumlah perangkat desa Bongsoputro ada 9 orang terdiri dari : Kepala Desa Suwarno, Staf umum : Subiyanto, Staf keuangan : Sri Wulida K, Staf pembangunan : Sutini, Kasun I : Hariyanto, Kasun II : Sasminto, Kasun III : Sugiarto, Modin Putut Sukarnanto, pelaksana teknis lapangan Musiran, dibantu ketua LKMD 11 orang, ketuanya Suparmin dan BPD 5 orang, Ketuanya Hariyono, semua ini saling bahu membahu dan bekerja sama, bergotong royong bersama masyarakat Desa agar bisa tercapai dan mewujudkan desa Bongsopotro lebih baik dan lebih sejahtera. (*).
Ket. Foto : Kades Bongsopotro Suwarno Bersama Perangkat Desa dan Warga Pengrajin Tempe Kripik
Sumber Berita : Suara Media Nasional