Desa Candimulya Alokasikan DD Untuk Pembangunan Infrastruktur

FORUM JURNALIS MADIUN, DOLOPO - Agar mobilitas warga lancar sehingga bisa mendongkrak perekonomian lokal, Desa Candimulya, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun menggunakan Dana Desa (DD) untuk pembangunan infrastruktur jalan yang sudah rusak.....

BUMDes Desa Tambakmas Berdayakan Masyarakat Melalui Unit Usaha Cor Beton

FORUM JURNALIS MADIUN, KEBONSARI - Desa Tambakmas, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun merupakan desa yang menonjol dibidang pertanian dan holtikultura.......

Desa Mejayan Pembangunan Untuk Kesejahteraan Warga

FORUM JURNALIS MADIUN, MEJAYAN - Sebagai jantung Ibu Kota Kabupaten Madiun, desa Mejayan, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun dalam melaksanakan pembangunan desa .....

BUDIDAYA BIBIT IKAN GURAMI DI DESA SIDOREJO KECAMATAN KEBONSARI KABUPATEN MADIUN

FORUM JURNALIS MADIUN, KEBONSARI - Ikan Gurami merupakan ikan asli Indonesia dan berasal dari perairan daerah Jawa Barat. Ikan ini merupakan salah satu komuditi perikanan air tawar yang cukup tinggi .....

PETANI CENGKEH DI DESA TILENG BUTUH CAMPUR TANGAN PEMKAB MADIUN

FORUM JURNALIS MADIUN, DAGANGAN - Tanaman cengkeh merupakan tanaman asli Indonesia, tanaman ini tumbuh subur di daerah pegunungan dan dataran rendah yang banyak curah hujannya .....

Monday, 16 May 2016

GALI BERBAGAI POTENSI GUNA MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

KEBONSARI - Dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa, berbagai upaya dilakukan diantaranya memberdayakan seluruh komponen desa baik masyarakat maupun yang lain. Hal ini dilakukan untuk menggali dan mengembangkan seluruh kemampuan ekonomi yang berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan. Seperti Desa Mojorejo Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun yang mempunyai luas wilayah mencapai 228,675 ha, dengan jumlah penduduk 2.605 jiwa yang tersebar di 3 (tiga) dusun yakni dusun Mojorejo, dusun Kerjo dan Dusun Gantrung. 

Kepala Desa Mojorejo, H. Mustakim, S.Pd-I mengatakan selain dari sektor pertanian, desanya tengah merintis pengembangan ekonomi dari perternakan dan industri perdagangan ( home industri). Adapun ternak yang akan di budidayakan antara lain, kambing, kelinci dan burung puyuh. Saat ini pihaknya telah menfasilitasi kelompok ternak agar lebih konsentrasi pada usaha ternak tersebut. Mengingat ternak kambing, kelinci dan puyuh merupakan solusi untuk meningkatkan potensi ekonomi desa. “ Kalau dikelola dengan baik maka akan mendatangkan uang banyak “. tandas Kades Mustakim.
 
Menurutnya, sampai saat ini yang menjadi kendala adalah manajemen kelompok ternak yang belum maksimal sehingga berpengaruh terhadap hasil produksi. Seperti penjualannya yang biasa melalui tengkulak akan diarahkan melalui kelompok sehingga harga  dapat stabil. Terutama sirkulasi ekonomi diharapkan dapat berputar didalam desa Mojorejo. Untuk meningkatkan sumber daya manusia ( SDM) kelompok, pihaknya secara berkala mengundang narasumber untuk membina dan melatih cara-cara berternak yang baik. Saat ini ada sekitar 500 ekor kambing yang sudah dibududaya masyarakat. Kedepan kami rencanakan home industri pakan ternak untuk mengantisipasi kelangkaan dan mahalnya harga pakan ternak. 

Usaha lain yang mampu mendongkrak perekonomian masyarakat yakni sektor industri perdagangan yakni merintis dan menumbuhkan usaha-usaha mikro seperti tempe, kripik pisang dan kacang oven dan  diharapkan usaha yang tadinya mikro dapat berkembang menjadi makro, selain hasil produksi besar tentunya akan menyerap tenaga kerja banyak. Pihak desa akan fasilitasi masyarakat yang memiliki usaha agar dapat berkembang.

“ Dengan menumbuhkembangkan industri perdagangan akan mempengaruhi tingkat pengangguran yang ada“. harapannya.

Lebih lanjut Kades yang mantan Ketua BPD ini menyampaikan bahwa Desa Mojorejo 60 persen tanahnya digunakan dan diperuntukan sebagai lahan pertanian. Tentunya hal tersebut menjadi penyangga utama perekonomian desa. Sama dengan konsep yang lain, desa tengah merencanakan BUMDes dengan memanfaatkan keberadaan lumbung desa. Selama ini proses ekonomi dari sektor pertanian belum bahkan tidak ada perkembangan. Dengan adanya BUMDes, pengelolaan hasil produksi padi terutama paska panen akan maksimal dan memnuaskan para petani. Pertanian di Desa Mojorejo sendiri dikelola oleh 3 poktan dan 1 kelompok wanita tani (KWT) 

“ Selain peningkatan PADes, BUMDesa juga untuk mengamankan program pangan nasional khususnya untuk kebutuhan didesa Mojorejo “. lanjutnya. 

Dikatakannya, Konsentrasi di bidang pendidikan khususnya pendidikan usia dini menjadi sorotan utama bagi pemerintahan desa. Mengantisipasi perkembangan zaman yang semakin tidak menentu, pembekalan dan pembinaan terhadap generasi penerus harus benar-benar sesuai dan  tepat sasaran. Khususnya PAUD dan TK serta MADIN, pihaknya akan memfasilitasi proses legalisasi BHI untuk meningkatkan upaya kegiatan belajar mengajar.  PAUD, TK dan MADIN  adalah golden age dimana pendidikan pada usia-usia tersebut harus benar-benar diperhatikan, di didik dengan sebaik mungkin.

 Agar kedepan Desa Mojorejo memiliki generasi penerus yang bermanfaat “ pungkas Kades yang mempunyai background pendidikan ini.

Disampaikan pula bahwa semua rencana program dan konsep-konsep pembangunan di Desa Mojorejo telah sesuai dengan RPJMDes yang direncanakan bersama lembaga terkait sesuai porsi dana desa yang ada.  (*)

Ket. Foto : Kepala Desa Mojorejo, H. Mustakim, S.Pd.I saat memberikan arahan pada pertemuan Kelopok Tani Wanita Desa Mojorejo.

Sumber Berita : Realita Masyarakat
 

DONGKRAK EKONOMI DENGAN BUDIDAYA TANAMAN KAKAO

DAGANGAN - Letak Desa Ngranget Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun yang berada di kawasan lereng gunung wilis memiliki potensi ekonomi yang sangat tinggi khususnya dari sektor perkebunan dan peternakan. Namun, beberapa kendala diantaranya keterbatasan sumber daya manusia dan permodalan sehingga menyebabkan penggalian potensi belum dapat ditingkatkan secara maksimal.

Desa Ngranget  memiliki luas wilayah 446 ha, 46 ha merupakan kawasan pertanian, selebihnya adalah kawasan pemukiman dan perkebunan. Potensi perkebunannya yang mempunyai nilai tinggi di harapkan mampu mencukupi bahkan meningkatkan taraf ekonomi desa yang berpenduduk hampir 2528 jiwa yang tersebar di 3  (tiga) dusun yakni Kepuh, Nganggrik dan Ngonto. Adapun potensi ekonomi desa Ngranget antara lain pertanian ( komoditas padi ), perkebunan ( Cengkeh, Kakao/Coklat, Porang ) dan Peternakan ( Kambing ).

Kepala Desa Ngranget, Sigit Suyono mengatakan bahwa sebenarnya Ngranget memiliki kemampunan ekonomi yang baik khususnya dari perkebunan dan peternakan. Masyarakat desa Ngranget tergolong ekonominya mapan namun  dari sisi pengelolaan masih sangat tradisional sehingga belum bisa dikatakan kaya.

Potensi perkebunannya seperti, tanaman cengkeh saat ini berkisar antara 40.000 hingga 50.000 pohon. Untuk usia 5-10 tahun perpohon per tahun bisa menghasilkan 5 – 10 kg cengkeh. Sedangkan usia 10 tahun keatas bisa mencapai 30 kg per tahun. Adapun harga cengkeh basah Rp.35.000/kg, kering Rp.120.000/kg. Sedangkan dari perkebunan Kakao (coklat), ada sekitar 100.000 pohon, 75 % sudah bisa dipanen. Setiap minggu bisa menghasilkan 5 – 7 kg kering per pohon. Sedangkan harga jual kakao dengan proses fermentasi bisa mencapai Rp.35.000/kg. Kalau prosesnya asal-asalan atau biasa hanya Rp.25.000/kg kering.   analisa usaha, “ Kalau di analisa,  usaha tersebut sudah mampu mendongrak perekonomian desa  “.  terang Kades Sigit
 
Khususnya tanaman Kakao, lanjut Kades yang baru menjabat 6 bulan ini menambahkan lebih menjanjikan. Karena  Kakao/coklat prospek kedepannya sangat baik dibanding cengkeh yang sementara waktu hanya sebagai bahan baku rokok dan kesehatan. Belum lagi kalau pemerintah mengurangi kuota rokok maka kebutuhan cengkeh akan  berkurang Demikian pula untuk tanaman Porang (iles-iles) juga baik prospek dan manfaatnya, tanaman yang tidak membutuhkan lahan khusus yakni bisa di tanam di bawah tegakan tanaman keras. Selain   buahnya dapat dijadikan bahan baku pangan olahan kue tradisional ( agar-agar,mi,tahu), bahan baku kosmetik dan lem juga sudah mulai menjadi komoditas ekspor.

“Porang bisa dikatakan sebagai tanaman sampingan, kalau dikelola dengan baik hasilnya sangat menjanjikan “  lanjutnya

Potensi lain yang tak kalah pentingnya yaitu peternakan kambing. Dikatakan, ada 500 KK yang mempunyai ternak kambing antara 3-5 ekor per KK. Diakui, kendala yang paling signifikan adalah ketika musim kemarau. Keberadaan makanan ternak sangat sulit. Adapun bisa akan berpengaruh pada lingkungan. Kalau tidak ada alternative makanan maka peternakan kambing akan menurun. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya membuat terobosan dengan memanfaatkan bahan-bahan limbah perkebunan dan pertanian untuk makanan ternak.

“ Kedepan akan kita rintis dengan menggunakan bahan makanan yang diproses secara fermentasi “
Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Dusun Nganggrik, Pudjud bahwa potensi desanya apabila dikelola secara baik dan terpadu akan menambah pendapatan masyarakatnya. Selama ini masih memakai sistem tradisional bahkan sistem ijon (panjar). Artinya uang diberikan dahulu sedangkan barang kalau sudah dipanen. Padahal yang banyak menghasilkan uang adalah paska panen. Sementara kelompok tani yang berada di desa Ngranget belum mampu mengelola secara professional karena terkendala permodalan.

“ Sebenarnya sangat potensi bagi kelompok apabila permodalannya cukup “ tukas Pudjud yang sekaligus sebagai Ketua Gapoktan Desa Ngranget.

Kedepan, jajaran Pemerintahan Desa Ngranget akan mencari terobosan untuk meningkatkan potensi desanya. Bahkan  akan membuka seluas-luasnya kepada pihak-pihak yang ingin bekerja sama (investor) dalam pengembangan usahanya. (*)

Ket. Foto : Kepala Desa Ngranget, Sigit Suyono diapit dua perangkatnya

Sumber Berita : Realita Masyarakat

Sunday, 15 May 2016

BERBAGAI POTENSI YANG ADA DI DESA MRUWAK KECAMATAN DAGANGAN

DAGANGAN - Desa Mruwak salah satu dari 17 desa lain di wilayah Kecamatan Dagangan yang terletak ± 5 km ke arah Timur Laut di Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun.

Memiliki luas wilayah 266.547 ha, dengan jumlah penduduk 3.696, kepala keluarga 1.248 orang. Dimana kebanyakan warga desa Mruwak adalah petani. Desa Mruwak sendiri punya sejarah, hal ini dibuktikan  dengan adanya Batu Prasasti yang ditemukan mahasiswa IKIP PGRI Madiun Jurusan sejarah tahun 1975 di bawah bimbingan Drs. Koesdim Heroekoentjoro dan Drs. Arief Soekowinoto.
Dalam Batu Prasasti terdapat tulisan sansekerta yang berbunyi “Sang Rabasra Shalima Rama Awalika” yang ditafsirkan berbunyi sebagai berikut, Sang : gelar orang terhormat, Rabasra: kekerasan, Shali : daerah kekuasaan raja, Shalima Rama : daerah yang bersifat suci, Awalika : demikian adanya.
Desa Mruwak sendiri mempunyai 4 wilayah dusun diantarannya : dusun Mruwak, dusun Ngrangkah, dusun Kemulan dan dusun Nglumer. Desa mruwak memiliki banyak potensi baik yang berasal dari alam, kelembagaan/organisasi selain lahan pertanian dan juga sungai untuk mengairi sawah. Di dusun Mruwak ada 2 peternak yang sukses salah satunya Maliki peternak kambing, dari awal  memelihara beberapa ekor kambing hingga sekarang berkembang banyak. Begitu juga bu Marem seorang janda yang meneruskan usaha mendiang suaminya pak Senen ternak ayam potong berhasil sukses.

Kepala Desa Mruwak juga berharap agar kedua warganya yang sukses dalam beternak kambing dan ayam potong ini bisa memotivasi warga yang lain, karena dilihat dari kondisi desa yang masih banyak lahan yang kosong cocok untuk ternak kambing atau ayam karena udaranya juga sejuk dan jauh dari hunian penduduk. (*)
Ket. Foto : Kepala Desa (Kades) Mruwak  Ndaru dan Babinsa saat menjelaskan potensi desa yang ada di kantor desa, Maliki salah satu peternak kambing yang sukses.

Sumber Berita : Tabloid Awas

Kreatifitas Desa Mendak Ciptakan Dodol Loren Yang Nikmat dan Lezat

DAGANGAN - Manis, legit, dan berbeda, tiga kata itulah yang pertama akan terbersit ketika mencoba Dodol Loren ( Telo dan Durian ) asli buatan tangan home industri ibu - ibu rumah tangga yang berkediaman di Desa Mendak, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.

Menurut Kepala Desa Mendak, Nur Cholifah, kreatifitas untuk mengolah ketela dan durian menjadi dodol tersebut muncul dari teman – teman KKNnya di tahun 2006 lalu. Karena melihat potensi buah-buahan selain rambutan dan manggis, Desa Mendak, Kecamatan Dagangan juga memiliki potensi buah durian dan ketela yang cukup menjanjikan.

" Sayang rasanya jika potensi buah durian dan ketela yang ada tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh penduduk yang tinggal di Desa Mendak ini, " Ungkap Kepala Desa Mendak, Nur Cholifah, Kamis (12/5/2016).
Lebih lanjut dikatakan, karena dodol tersebut terbuat dari bahan dasar utama ketela dan durian akhirnya dodol asli buatan masyarakat Desa Mendak ini dinamakanlah Dodol Loren. Dan untuk membuat Dodol yang berkualitas itu tidak lepas dari pemilihan bahan baku ketela dan buah durian yang baik juga. Misalnya pemilihan buah durian masak pohon dan segar yang memiliki aroma khas sebagai bahan dodol untuk mendapatkan citra rasa yang alami dan dapat tahan lama tanpa bahan pengawet.

“ Untuk setiap kreasi Dodol Loren yang di ciptakan masyarakat Desa Mendak ini selain kemasan yang menarik, dijamin keamanan dan kelezatannya bagi semua konsumen, karena Dodol Loren yang berbahan dasar Durian, Ketela, Gula Merah, Santan dan vanili ini tanpa bahan pengawet dan maksimal bisa bertahan hingga 7 hari,” Jelasnya.
Dodol Loren yang pernah mendapat juara dalam lomba olahan pangan lokal tingkat Kabupaten Madiun  tahun 2009  itu, saat ini sudah melayani berbagai pesanan hajatan baik dari Desa Mendak maupun dari Desa sekitarnya. Hanya saja, Dodol tersebut baru bisa diproduksi ketika musim durian saja.
 “ Kita berharap selain bisa terproduksi sepanjang masa, juga ada  perhatian khusus dari Pemkab Madiun untuk perkembangan Dodol Loren ini sehingga bisa meningkatkan penghasilan masyarakat,” Pungkasnya. (*).

Sumber Berita : Jatim Pos